Sekilas Surakarta

Kota Solo atau nama resminya adalah Surakarta merupakan nama sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pada tahun 1948, pernah berdiri "Daerah Istimewa Surakarta" dengan Sri Sunan Pakubuwono XII dan Sri Mangkunegoro VIII masing-masing menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur (bersamaan dengan berdirinya propinsi DI Yogyakarta), meski setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda provinsi ini dihapuskan, karena terjadi huru-hara. Huru-hara ini dipicu oleh anggota-anggota Partai Komunis Indonesia yang menentang monarki dan feodalisme; dan dikenal sebagai pemberontakan Tan Malaka). Selanjutnya dibentuk Karesidenan Surakarta yang mencakup wilayah-wilayah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, termasuk kota swapraja Surakarta.

Warga eks Karesidenan Surakarta / SUBOSUKAWONOSRATEN (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) masih sering menyebut dirinya orang 'Solo' (bentuk alternatif dari Surakarta) meskipun tidak berasal dari kota Surakarta sendiri. Hal ini dilakukan sebagai identifikasi untuk membedakan diri mereka dari orang 'Semarang' dan 'Yogya'.

Meskipun bukan ibukota provinsi, namun Surakarta berstatus sebagai kota besar dan menjadi salah satu kota terpenting di Indonesia dikarenakan masyarakatnya mempunyai karakter yang kuat, yaitu lembut dalam bahasa, tingkah laku, serta tutur kata di samping masih mempertahankan kehidupan tradisinya. Penduduk Surakarta juga mengadopsi kehidupan modern, seperti banyaknya hotel berbintang, kafe, pub, bar, dan diskotik.

Di Indonesia, Surakarta merupakan kota berperingkat kesepuluh kota terbesar (setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Yogyakarta).

Makanan di Surakarta terkenal sangat nikmat dan harganya murah, di antaranya nasi liwet, sate buntel, bakso Solo, Timlo, soto sapi, serabi Solo, Cabuk rambak, Tahu kupat, pecel ndeso, thengkleng, Ledre intip, gado-gado, tahu acar, selat, gethuk lindri, dll. (wikipedia, ensiklopedia bebas)


Batas Wilayah

Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali
Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo
Selatan :  Kabupaten Sukoharjo
Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar

Sejarah

Sejarah kelahiran Kota Surakarta (Solo) dimulai pada masa pemerintahan Raja Paku Buwono II di Kraton Kartosuro. Pada masa itu terjadi pemberontakan Mas Garendi (Sunan Kuning) dibantu kerabat-kerabat Keraton yang tidak setuju dengan sikap Paku Buwono II yang mengadakan kerjasama dengan Belanda. Salah satu pendukung pemberontakan ini adalah Pangeran Sambernyowo (RM Said) yang merasa kecewa karena daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh keraton Kartosuro kepada ayahandanya dipangkas. Karena terdesak, Paku Buwono mengungsi kedaerah Jawa Timur (Pacitan dan Ponorogo).

Dengan bantuan pasukan Kumpeni dibawah pimpinan Mayor Baron Van Hohendrof serta Adipati Bagus Suroto dari Ponorogo pemberontakan berhasil dipadamkan. Setelah tahu Keraton Kartosuro dihancurkan Paku Buwono II lalu memerintahkan Tumenggung Tirtowiguno, Tumenggung Honggowongso, dan Pangeran Wijil untuk mencari lokasi ibu kota Kerajaan yang baru.


Pada tahun 1745, dengan berbagai pertimbangan fisik dan supranatural, Paku Buwono II memilih desa Sala –sebuah desa di tepi sungai Bengawan Solo- sebagai daerah yang terasa tepat untuk membangun istana yang baru. Sejak saat itulah, desa sala segera berubah menjadi Surakarta Hadiningrat.


Melihat perjalanan sejarah tersebut, nampak jelas bahwa perkembangan dan dinamika Surakarta (Solo) pada masa dahulu sangat dipengaruhi  selain    oleh Pusat Pemerintahan dan Budaya Keraton (Kasunanan dan Mangkunegaran), juga oleh kolonialisme Belanda (Benteng Verstenberg). Sedangkan pertumbuhan dan persebaran ekonomi melalui Pasar Gedhe (Hardjonagoro).



Sejarah Pemerintahan


Tanggal 16 Juni merupakan hari jadi Pemerintah Kota Surakarta. Secara de facto tanggal 16 Juni 1946 terbentuk Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran.

Secara yuridis Kota Surakarta terbentuk berdasarkan penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 16/SD, yang diumumkan pada tanggal 15 Juli. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumnya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta
Provinsi        
Jawa Tengah

Luas wilayah        
44,03 km˛
Penduduk        
552.542 (2005)
- Kepadatan        12.998,97/km˛
Suku bangsa        
Jawa, Tionghoa, Arab
Bahasa        
Jawa, Indonesia
Agama

Kejawen, Islam, Katholik Roma, Kristen Protestan, Hindu, Buddha
Kecamatan        
5
Kelurahan        
51
Walikota        
Ir. Joko Widodo
Wakil Walikota        
F.X. Hadi Rudyatmo
Kode telepon        
0271
Situs web resmi:
www.surakarta.go.id
Informasi
108
Polisi
110
Pemadam Kebakaran
113
Ambulans
118
Pamapta Polresta Solo
712600
Satlantas Polresta Solo
656969
SAR UNS
636399
Gangguan Keamanan
714352
Palang Merah Indonesia
647782
PLN
290123
RSUD Dr.Moewardi
634634
RS Islam Surakarta
710571
RS Islam Kustati
647725
RS Dr. Oen Solo
643139
RS Dr. Oen Solo Baru
620220
RS Pantiwaluyo
712077
RS Brayat Minulyo
716646
RS PKU Muhammadiyah
714578
RS Slamet Riyadi
726700
LBH Solo
827841 - 634476
Terminal Bis Tirtonadi
717297 - 738900
Stasiun KA Balapan Solo
714039
Stasiun KA Purwosari Solo
713674
Stasiun KA Jebres Solo
646408
Bandar Udara Adisumarmo
780400 - 781164
Penerangan HIV
632202
Pengaduan Kebersihan
713495
Dinas Pariwisata Seni & Budaya
711435
Dinas Kebersihan
651226
Taksi Kosti
956300
Solo Taksi
728728
Angkasa Taksi
718315
Taksi Centris
713000 - 715678
Telepon Penting :
  • diawali (0271)
Java Museum
Profil